Anak Negeri Membangun Bangsa Sehat dan Sejahtera

Sunday, 3 March 2024

8 Langkah Membuat Ecobrick Dari Sampah Plastik

Ecobrick

Ecobrick berasal dari kata “
ecology” yang dalam Bahasa Indonesia disebut “ekologi”. Sementara kata “brick” merupakan Bahasa Inggris dari “bata”. Jika disimpulkan, ecobrick merupakan bata ramah lingkungan. Ecobrick dianggap sebagai salah satu cara pemanfaatan limbah plastik yang mudah dan efisien. Anda bisa menciptakan susunan bata yang terlihat indah dari sampah plastik dengan metode ecobrick ini.

Yuk, ikut melakukan pemanfaatan limbah plastik menjadi sesuatu yang lebih berguna melalui metode ecobrick. Berikut adalah langkah-langkah dalam membuat ecobrick dari plastik bekas:

1. Pilah dan Bersihkan Sampah Plastik

Bahan utama yang harus tersedia dalam membuat ecobrick adalah sampah plastik. Jenis sampah plastik yang dimaksud di sini bisa bermacam-macam, mulai dari kemasan deterjen, kemasan minuman, kantong plastik sekali pakai (kresek), sampai dengan bungkus makanan.

Setelah semua sampah plastik terkumpul, cuci bersih semuanya dengan menggunakan sabun – bisa deterjen atau sabun pencuci piring. Setelah itu, jemur sampah plastik yang sudah dicuci ini di bawah sinar matahari sampai kering.

2. Sediakan Botol Bekas Air Mineral dalam Jumlah Banyak

Selain sampah plastik, Anda juga harus menyiapkan botol bekas air mineral ukuran 600ml. Botol-botol ini nantinya akan menjadi “bata” dalam membuat ecobrick. Usahakan untuk mengumpulkan botol-botol bekas air mineral ini sebanyak mungkin.

Botol tersebut tidak perlu dicuci jika sudah dalam keadaan bersih. Namun, bagian dalam botol harus kering sebelum diisi dengan sampah plastik.

3. Gunakan Tongkat untuk Memasukkan Plastik

Sebelum mulai memasukkan sampah plastik ke dalam botol, sediakan dulu tongkat yang panjangnya dua kali lipat panjang botol air mineral. Tongkat ini nantinya dipakai untuk mengemas sampah-sampah plastik agar muat dimasukkan ke dalam botol.

4. Masukkan Sampah Plastik ke dalam Botol

Setelah semua bahan yang Anda butuhkan tersedia, kini saatnya memasukkan sampah-sampah plastik yang sudah dibersihkan tadi ke dalam botol bekas air mineral. Agar menghasilkan ecobrick yang cantik, masukkan plastik secara random agar tampak berwarna-warni. Isi botol dengan sampah plastik sampai semua bagian botol terisi penuh.

5. Padatkan Sampah Plastik

Ketika botol-botol bekas air mineral sudah terisi dengan sampah plastik, ambil tongkat yang tadi sudah disediakan untuk mendorong semua sampah plastik agar padat di dalam botol. Jika masih tersisa rongga udara di dalam botol, isi kembali dengan sampah plastik sampai tidak ada rongga udara yang tersisa. Dorong kembali semua sampah plastik menggunakan tongkat.

6. Timbang Setiap Ecobrick

Dalam membuat ecobrick kita tidak bisa asal-asalan memasukkan sampah plastik ke dalam botol bekas air mineral. Agar bisa menjadi “bata” yang nantinya disusun secara rapi, Anda wajib menimbang setiap botol yang sudah diisi sampah plastik. Standar ecobrick adalah 200 gram per botol air mineral berukuran 600ml. Kalau jumlahnya terlalu banyak, sisihkan sedikit sampah plastik di dalamnya. Sementara jika beratnya kurang dari 200 gram, isi kembali botol dengan sampah plastik.

7. Simpan Ecobrick di Tempat yang Teduh

Sebelum semua ecobrick yang Anda buat terkumpul, simpan ecobrick yang sudah jadi di tempat yang teduh. Hindari paparan sinar matahari langsung agar botol-botol plastik ecobrick ini tidak menyusut.

8. Susun Semua Ecobrick

Apabila semua ecobrick sudah selesai dibuat, saatnya menyusun ecobrick ini menjadi sebuah benda atau bangunan. Ecobrick bisa dipakai untuk membuat dinding (non-permanen), replika benda (gapura, pohon, dll), dan pagar mini.

Langkah-langkah membuat ecobrick ini bisa langsung Anda praktekkan sendiri di rumah. Rinso juga mengajak Anda untuk memulai inisiatif  Yuk Mulai Bijak Plastik untuk mengurangi jumlah sampah plastik yang berisiko mencemari lingkungan. Pemanfaatan limbah plastik sebagai ecobrick ini bisa menjadi salah satu langkah untuk turut memulai inisiatif Bijak Plastik.


sumber artikel : https://www.rinso.com/id/sustainability/8-langkah-membuat-ecobrick-dari-plastik-bekas.html

Saturday, 2 March 2024

Budidaya Maggot

Maggot

Berdasarkan data The Economics Intelligence Unit, Indonesia merupakan penghasil sampah makanan (food loss and waste) terbesar kedua di dunia dan salah satu jenis sampah yang berpotensi sebagai sumber gas metana. Gas metana merupakan salah satu Gas Rumah Kaca (GRK) yang dapat menyebabkan efek rumah kaca, sebagai penyebab terjadinya pemanasan global (Global Warming). 

Saat kita membuang makanan dan sampah taman ke dalam tempat sampah, maka sampah-sampah tersebut akan dibawa dan terkubur di tempat-tempat pembuangan sampah. Saat sampah yang berada paling bawah mengalami pembusukan, terbentuklah gas metana. Gas metana akan merusak lapisan ozon bumi karena gas metana termasuk gas-gas rumah kaca yang dapat mengakibatkan perubahan iklim.

Salah satu metode pengolahan sampah organik, seperti sampah makanan, adalah biokonversi dengan metode BSF (Black Soldier Fly). Produk yang dihasilkan antara lain maggot dan kompos. Produk ini dapat bernilai ekonomi tinggi karena dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak, pupuk tanaman dan kegunaan lainnya.

Apa Itu Maggot BSF?

Maggot merupakan larva dari jenis lalat Black Soldier Fly (BSF) sehingga sering disebut maggot BSF. Lalat BSF sendiri memiliki nama latin Hermetia illucens. Bentuknya mirip ulat, berbuku dengan ukuran larva dewasa 15-22 mm dan berwarna coklat. Siklus hidup lalat BSF kurang lebih selama 40- 43 hari. Larva/maggot BSF bertahan selama 14-18 hari sebelum bermetamorfosis menjadi pupa dan lalat dewasa.

Berbeda dengan jenis lalat pada umumnya seperti lalat rumah dan lalat hijau yang dicap sebagai agen penyakit, lalat BSF ini tidak menimbulkan bau busuk dan bukan pembawa sumber penyakit karena dalam tubuh BSF mengandung zat antibiotik alami. Lalat hijau biasanya hinggap di tempat yang kotor, namun lalat BSF ini hanya hinggap di tempat yang berbahan fermentasi. 

Manfaat dan Produk Turunan BSF 

Maggot BSF dimanfaatkan dan dijual dalam bentuk maggot segar, maggot kering, telur dari lalat BSF dan produk turunannya seperti tepung maggot, pellet maggot, prebiotik serta pupuk organik. Maggot mengandung protein tinggi yaitu sekitar 30-45% sehingga sangat cocok dimanfaatkan sebagai pakan ternak seperti ikan, burung dan hewan ternak lainnya. Pupuk organik sebagai produk turunan dari maggot berfungsi sebagai kondisioner tanah atau untuk revitalisasi. Budidaya Budidaya maggot termasuk mudah dilakukan dan tidak memerlukan teknik khusus sehingga semua orang bisa melakukannya. Biaya yang dikeluarkan juga cukup murah dan perawatannya tidak menyita waktu karena tidak perlu dikontrol setiap hari. Selain itu, biaya pakan juga gratis dari limbah organik rumah tangga. budidaya maggot dimulai dengan pupa dan masa panen maggot segar sekitar 15 hari. Budidaya maggot dapat dilakukan dengan skala kecil dan menengah. Berikut beberapa hal yang dilakukan dalam budidaya maggot BSF:

1. Membuat Kandang Lalat Kendang ini akan berfungsi sebagai tempat lalat BSF bertelur. 

Ukuran kandang sebesar 3 m x 2 m x 2 m sudah cukup untuk memulai bisnis budidaya maggot BSF kelas kecil menengah. Ukuran kandang tersebut dapat menampung puluhan ribu larva. Kandang ini biasanya berupa rangka terbuat dari bambu, kayu atau bahan lainnya yang kemudian diselimuti jaring. Budidaya maggot dapat dimulai dengan membeli pupa yang kemudian akan berkembang menjadi lalat BSF dan bertelur. Harga pupa berkisar Rp.150.000/kg. Atau bisa dengan membeli telur BSF dengan harga Rp.5000-7.000/gram. Dari 1 gram telur BSF dapat menghasilkan larva maggot (fresh maggot) sekitar 2-3 kg.

2. Membuat Kotak Penetasan Telur 

Selain kandang untuk produksi telur, diperlukan juga kotak sebagai media untuk penetasan telur yang kemudian akan berkembang menjadi larva maggot BSF. Kotak ini dapat terbuat dari kardus, triplek atau kotak plastik. Ukuran dapat disesuaikan dengan jumlah telur.

3. Menyiapkan Biopond 

Media untuk pembesaran larva disebut biopond yang dapat terbuat dari kayu atau bak plastik. Buat dengan bentuk kotak atau sesuai kebutuhan lalu diisi dengan tanah. Ukuran biopond disesuaikan dengan jumlah telur yang menetas. Setelah telur menetas di kotak penetasan, segera pindahkan larva kedalam biopond. Pemisahan telur dengan larva harus dilakukan untuk menghindari pecahnya telur-telur yang belum menetas oleh larva yang sudah terlebih dahulu menetas. 

4. Pemberian Pakan

Pakan maggot BSF adalah sampah dapur berupa sisa-sisa makanan. Pemberian pakan ini bisa dilakukan secara langsung maupun dicacah atau dihaluskan terlebih dahulu menggunakan mesin pencacah maupun manual. Pakan ini ditaburkan di biopond/media pembesaran larva. Sebanyak 15 ribu larva/maggot BSF dapat menghabiskan sekitar 2 kg sampah organik hanya dalam waktu 24 jam.

5. Panen Maggot BSF 

Setelah telur menetas dan dipisahkan ke dalam biopond, biarkan selama 1 minggu sampai larva berbentuk sempurna. Waktu panen yang terbaik yaitu sekitar 2-3 minggu setelah telur menetas. Untuk mengundang lalat BSF tetap datang ke kandang, taburkan dedak fermentasi di sekitar media penetasan telur setiap minggu.


Potensi dan Peluang Pasar

Peluang pasar maggot BSF cukup terbuka luas. Pemasaran saat ini juga dapat dilakukan secara online langsung kepada konsumen. Dilansir dari beberapa sumber, untuk skala rumah tangga, maggot BSF fresh larva dapat dijual kepada pengepul atau produsen skala besar atau dapat digunakan sendiri sebagai pakan ternak ikan, bebek, ayam, burung atau pupuk organik. Budidaya magot yang cukup mudah dan murah ini selain memberikan banyak manfaat juga mendatangkan keuntungan finansial. 

Untuk skala kecil-menengah atau skala rumah tangga, dengan modal kurang lebih Rp. 2 Juta rupiah untuk kandang dan telur BSF sudah dapat memulai budidaya. Budidaya yang dimulai dengan telur BSF kurang lebih 1 gram telur akan menghasilkan 2-3 kg larva atau sekitar 20.000-30.000 larva yang akan berkembang menjadi lalat BSF dan bertelur Kembali dalam waktu kurang lebih 45 hari. 1 ekor lalat betina akan menghasilkan 500-900 butir telur dan untuk menghasilkan 1 gram telur memerlukan 14-35 BSF.

Berikut perhitungan sederhana budidaya maggot skala kecil-menengah:

nomodalharga (Rp)
1Telur maggot 20 gram60.000
Kandang 3x2x2 365.000
3Kotak penetasan 20 buah1.000.000
4Biopond 20 buah1.000.000
5Pakan0
Total2.425.000

Dari 1 gram telur diperkirakan akan menjadi 25.000 BSF yang akan bertelur kembali. Jika satu ekor lalat betina dewasa diperkirakan akan bertelur sebanyak 700 butir telur yang akan menjadi larva, maka diperkirakan jumlah larva sebanyak 17.500.000 atau sama dengan 1.750 kg. Jika harga fresh maggot di pasaran paling rendah Rp.5000/kg maka dalam waktu kurang lebih dua bulan sudah bisa menghasilkan Rp. 8.750.000. Itu baru dari 1 gram telur saja, bagaimana jika dari 20 gram telur BSF di atas berkembang seluruhnya? Sangat menggiurkan bukan? Yuk mulai kelola sampah makanan kita dengan budidaya maggot BSF! (Kia)

sumber artikel : https://aliansizerowaste.id/2023/02/01/budidaya-maggot-bsf-solusi-kurangi-sampah-makanan-yang-menguntungkan/

Friday, 1 March 2024

Budidaya Hidroponik Organik Bisa Dilakukan dengan 5 Tahap

Tips Budidaya Hidroponik Organik

Selain bisa menanam berbagai jenis sayuran di lahan yang sempit, trend hidroponiik juga memberikan keunggulan lain yaitu kualitas panen yang lebih baik dan lebih higenis dibandingkan dengan penanaman secara konvensional.

Bagi Anda yang tertarik untuk melakukan budidaya hidroponik organik, ini dia beberapa tahap yang harus dilakukan:

Pemilihan Sistem Tanam yang Sesuai

Secara umum ada tiga jenis sistem tanam yang biasa digunakan pada proses penanaman secara hidroponik. Ketiga sistem tersebut antara lain sistem kultur air, sistem agregat, dan juga sistem NFT (Nutrient Film Technique).

Karena ketiga sistem tersebut memberikan metode yang berbeda, maka Anda harus memilih sistem yang tepat ketika akan melakukan penanaman secara hidroponik. Agar lebih jelas, ini dia informasi lengkapnya:

Kultur Agregat

Sistem kultur agregat merupakan salah satu sistem penanaman hidroponik dimana media tanah diganti dengan media non tanah seperti pasir, kerikil, hingga pecahan batu bata.

Untuk penanaman dengan metode kultur agregat, anda perlu menempatkan media kedalam pot. Setelah itu lakukan penanaman bibit dan rawat bibit dengan memberikan larutan nutrisi secara rutin.

Kelebihan dari metode ini adalah pengaplikasiannya yang mudah dan bahan-bahannya lebih murah. Namun kelemahannya, sistem ini tidak dapat menyuplai air sehingga Anda harus rutin melakukan penyiraman.

Kultur Air

Sistem kultur air merupakan salah satu sistem budidaya hidroponik dimana proses penanaman sayuran dilakukan pada media air seperti kolam atau kubangan.

Sistem kultur air merupakan sistem hidroponik yang paling lama karena sudah dipraktekkan sejak abad ke-15. Jenis sayuran yang cocok ditanam dengan menggunakan sistem kultur air antara lain kangkong, pakcoi, bayam, dan sayuran hijau lainnya.

NFT (Nutrient Film Technique)

Dibandingkan dengan kedua sistem tadi, sistem NFT merupakan sistem yang paling canggih dan modern. Sebagai pengganti tanah, sistem ini menggunakan media berupa tabung atau selokan yang diisi dengan larutan nutrisi yang kemudian ditanami dengan sayuran.

Tabung selokannya sendiri terbuat dari besi atau aluminium ringan yang tahan lama. Sistem hidroponik NFT sudah banyak dikembangkan di negara-negara maju  karena mampu menghasilkan sayuran berkualitas dan hanya membutuhkan lahan yang sempit.

tanaman hidroponik
pixabay.com

Penyemaian dan Penanaman Benih

Untuk bisa mendapatkan sayuran yang berkualitas, maka pemilihan benih sangat penting dilakukan. Jika Anda membeli benih dari toko pertanian, periksalah tanggal kadaluarsa, kemurnian benih, dan juga presentase tumbuh yang biasa tertera pada kemasan.

Untuk melakukan persemaian, Anda bisa menggunakan media seperti arang sekam, pasir halus, dan juga rockwool. Untuk benih berukuran kecil seperti cabai dan tomat, ada beberapa teknik penyemaian benih yang harus dilakukan antara lain:

  1. Siapkan wadah semain yang telah berisi media dengan ketebalan 5-7 cm.
  2. Tuang benih yang sudah dipilih dengan pasir kering steril lalu aduk merata.
  3. Tebar benih yang sudah tercampur dengan pasir pada media semai.
  4. Tutup benih dengan media tipis-tipis.
  5. Tutupi permukaan wadah semai dengan tisu yang sudah disemprot dengan air.
  6. Simpan di tempat gelap.
  7. Jika biji sudah tumbuh hingga 2-3 cm, pindahkan benih ke media hidroponik.

Langkah-langkah pemindahan tanaman ke media hidroponik yang harus dilakukan antara lain:

  1. Pilih benih yang sehat dan tidak cacat.
  2. Lakukan transplanting dengan cara membalikkan wadah semai dan mengambil bibit yang akan ditanam pada media hidroponik.
  3. Lakukan proses penanaman di sore hari agar tanaman dapat langsung beradaptasi di pagi harinya.
  4. Lakukan perawatan secara rutin sehingga tumbuh kembangnya optimal.

Perawatan Tanaman

Perawatan tanaman pada budidaya hidroponik sedikit berbeda dengan penanaman secara konvensional. Oleh karena itu agar tanaman yang dibudidayakan secara hidroponik dapat tumbuh sehat, maka Anda harus melakukan perawatan yang sesuai.

Beberapa langkah perawatan tanaman hidroponik organik yang harus dilakukan antara lain:

Pengairan

Karena sistem hidroponik tidak menggunakan tanah, maka faktor penting keberhasilan tumbuh kembang tanaman adalah proses pengairan yang dilakukan. Apalagi jika anda menggunakan sistem NFT atau kultur air yang membutuhkan air yang cukup.

Agar tanaman dapat tumbuh sehat, maka pastikan air yang digunakan merupakan air bersih yang terbebas dari kuman dan penyakit. Memberikan air kotor akan berdampak pada kesehatan tanaman.

Anda disarankan untuk memberikan air sebanyak 2-3 kali dalam sehari. Namun frekuensi ini bisa disesuaikan dengan kondisi cuaca. Hal terpenting yaitu pastikan bahwa ketersediaan air pada media selalu cukup.

Pemupukan

Pemupukan pada budidaya hidroponik lebih diarahkan pada pemberian nutrisi. Nutrisi yang biasa digunakan pada proses pemupukan adalah AB Mix. Anda bisa mendapatkannya dengan mudah di toko-toko pertanian.

Namun jika ingin lebih hemat, Anda juga bisa menggunakan tanaman kipahit (Thitonia diversifolia) pada proses pemupukannya. Sebelum diaplikasikan sebagai pupuk, fermentasikan tanaman ini selama 7-14 hari terlebih dahulu.

Sanitasi

Apa itu sanitasi? Sanitasi merupakan suatu teknik pembersihan baik pada area tanam maupun pada media tanam yang digunakan. Proses sanitasi sendiri sangat penting untuk menjaga kesehatan tanaman.

Pada budidaya hidroponik, Anda bisa melakukan sanitasi dengan cara membersihkan wadah yang digunakan sebagai media hidroponik. Lakukan sanitasi secara rutin tiap 2-4 minggu sekali.

Perempelan

Jika tanaman hidroponik yang Anda tanam berfokus pada hasil buah, maka proses perempelan sangat penting dilakukan. Perempelan sendiri bertujuan agar tanaman dapat terfokus untuk menghasilkan buah dan bunga.

Proses perempelan dilakukan dengan cara membuang daun tanaman yang tua dan berwarna kekuningan dan terserang penyakit. Buang jauh dan bakar daun hasil rempelan sehingga penyakit yang ada tidak menular pada tanaman yang sehat.

selada hidroponik
pixabay.com

Penanggulangan Hama dan Penyakit

Walaupun tidak ditanam di tanah, namun sayuran hidroponik organik juga sangat rentan terhadap serangan hama dan penyakit. Karena sayuran hidroponik identik dengan tanaman organik, maka pengendalian hama dan penyakit juga harus dilakukan dengan metode organik.

Anda bisa menggunakan tanaman kacang babi (Tephrosia vogelli) yang sudah diekstrak untuk mengendalikan berbagia jenis serangga yang menyerang tanaman seperti ulat, jangkrik, belalang, dan lain-lain. Lakukan pengendalian hama tiap 3-4 minggu sekali secara rutin dengan menggunakan dosis yang tepat.

Pemanenan

Proses pemanenan sayuran bisa dilakukan sesuai dengan usia panen. Untuk berbagai jenis sayuran hijau seperti bayam, kangkung, sawi, maka proses pemanenan bisa dilakukan ketika tanaman memasuki usia 21-25 hari.

Namun, untuk jenis tanaman lain seperti kol dan kubis, pemanenan baru bisa dilakukan ketika tanaman memasuki usia 90 hari.

Pemanenan dilakukan dengan cara mencabut tanaman dari media kemudian membersihkannya. Setelah dipanen, simpan tanaman di ruangan yang sejuk sehingga tidak rusak. Lakukan proses pemanenan di sore hari.


Itulah tadi beberapa langkah mudah budidaya hidroponik yang bisa dilakukan sendiri di rumah. Selain tidak membutuhkan tempat yang luas, membudidayakan sayuran sendiri juga dapat menghemat pengeluaran rumah tangga.

Apalagi jika hasil panen berlimpah dan berkualitas, maka Anda bisa juga menjual sayuran hidroponik organik dan menjadikannya sebagai bisnis yang sangat menguntungkan. Tertarik untuk mencoba?


sumber artikel : https://paktanidigital.com/artikel/budidaya-hidroponik-organik-bisa-dilakukan-dengan-5-tahap-ini/

Thursday, 29 February 2024

Pengolahan Limbah Popok Bekas Sekali Pakai


Tahukah kamu jika pemakaian popok bekas sekali pakai (pospak) yang bertujuan memudahkan dan memberi kenyamanan bagi ibu serta anak justru menimbulkan masalah baru bagi lingkungan dan kesehatan manusia. Tidak hanya itu, sampah popok bekas sekali pakai juga menjadi penyumbang sampah terbesar kedua di lautan.

Popok bekas sekali pakai mengandung senyawa kimia Super Absorbent Polymer (SAP) sebanyak 42% yang akan berubah bentuk menjadi gel saat terkena air. Apabila terurai dalam air, senyawa ini dapat menyebabkan perubahan hormon pada ikan

.

Selain itu, 55 % bahan pembuat popok bekas sekali pakai terbuat dari plastik yang membutuhkan waktu lama untuk terurai. Apabila popok bekas sekali pakai ini dibuang ke laut, sungai ataupun tanah maka dapat mencemari dan merusak lingkungan serta ekosistem, memicu terjadinya banjir, dan menimbulkan berbagai masalah kesehatan pada manusia.

Pengolahan Popok Bekas Sekali Pakai



1. Serat
Pengolahan popok bekas sekali pakai menghasilkan fiber/serat dengan kualitas tinggi yang dapat diolah menjadi kertas daur ulang.

2. Plastik
Pengolahan popok bekas sekali pakai menghasilkan plastik yang akan diolah menjadi briket Refuse Plastic Fuel (RPF). RPF merupakan satu teknik penanganan sampah dengan mengubah sampah menjadi bahan bakar. Hal yang menarik adalah RPF ini sudah diuji dan mengandung 7000 kalori.

3. SAP
Kandungan SAP yang terdapat dalam popok bekas sekali pakai dapat digunakan untuk tanaman karena kandungannya bagus untuk membantu mempertahankan air di dalam tanah.

Wednesday, 28 February 2024

Mengenal Sampah Rumah Tangga dan Jenis-jenisnya

Jenis Sampah Rumah Tangga

Sampah rumah tangga merupakan jenis sampah yang sangat dekat dengan kita. Dikutip dari sustaination.id, faktanya setiap orang bisa membuang 500 gram sampah setiap harinya. Tapi, apakah Sobat Pro Safety sudah tahu apakah sampah rumah tangga?

Sesuai PP No.81 Tahun 2012, sampah rumah tangga adalah sampah yang berasal dari kegiatan sehari-hari dalam rumah tangga namun tidak termasuk tinja dan sampah spesifik. Sederhananya, Anda bisa memahaminya dengan berangkat dari realitas yang paling dekat dulu, yakni tempat sampah dapur rumah atau tong sampah di depan rumah Anda.

Adakah sisa makanan seperti, sisa sayur, kulit buah, sisa daging, atau plastik, botol bekas minuman di rumah Anda? Ya, itu semua merupakan sampah rumah tangga. Sampah rumah tangga ini salah satu jenis sampah yang membuat puyeng karena termasuk jenis sampah dengan tingkat produksi sangat tinggi dan sulit diberantas.


Mayoritas Sampah Nasional dari Aktivitas Rumah Tangga

Indonesia menghasilkan 30,91 juta ton sampah pada 2021. Jumlah tersebut turun dari tahun sebelumnya yang sebesar 32,30 juta ton. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), 40,92% sampah di Indonesia berasal dari aktivitas rumah tangga.

Komposisi Sampah Berdasarkan Sumber Sampah

Sumber: sipsn.menlhk.go.id

Sumber sampah terbesar berikutnya berasal dari perniagaan, yakni 18,05%. Sebanyak 17,36 sampah berasal dari pasar. Lalu, 8,15% sampah berasal dari perkantoran. Ada 6,31% sampah yang berasal dari fasilitas publik. Sebanyak 5,77% sampah dari kawasan. Sementara, 3,44% sampah berasal dari sumber lain.

Sementara berdasarkan jenisnya, 39,9% sampah yang dihasilkan masyarakat berupa sisa makanan. Sampah Plastik berada di urutan berikutnya karena memiliki proporsi sebesar 17,7%. Sebanyak 12,9% sampah berupa kayu atau ranting. Sampah berupa kertas atau karton mencapai 12,08%. Lalu, 17,4 sampah berupa jenis lainnya.

Komposisi Sampah Berdasarkan Jenis Sampah

Sumber: sipsn.menlhk.go.id

Adapun, 64,52% sampah berhasil dikelola sepanjang tahun lalu. Sisanya sebanyak 35,48% sampah masih tersisa karena belum dikelola.

Baca juga:

Mengolah Sampah Dapur Jadi Pupuk Organik Cair, Begini Caranya!

Jenis-jenis Sampah Rumah Tangga

Secara garis besar, sampah rumah tangga dibagi menjadi tiga jenis, yakni sampah organik, anorganik, serta bahan berbahaya dan beracun (B3).

a. Sampah organik

Sampah organik adalah jenis sampah yang dihasilkan dari sisa-sisa makhluk hidup, seperti tumbuhan dan hewan, serta berbagai produk olahannya. Sampah organik ini memiliki sifat mudah terurai secara alami (degradable) dan mudah membusuk.

Dapat diolah menjadi pupuk kompos, tambahan pekan ternak, serta dapat diubah menjadi biogas dan listrik. Contohnya sayur, sisa daging, potongan ikan, buah-buahan yang busuk, daun, ranting kering, kotoran hewan, dll.

b. Sampah anorganik

Sampah anorganik adalah jenis sampah yang berasal dari pabrikan, hasil campur tangan manusia. Sampah anorganik ini memiliki sifat tidak mudah terurai tanpa bantuan manusia dan tidak mudah membusuk.

 

Dapat dipergunakan kembali atau daur ulang sesuai dengan bahan dasarnya sehingga memiliki nilai ekonomis. Contohnya botol bekas, plastik, kaleng minuman, kaca, kaleng, dan sebagainya.

c. Sampah berbahaya dan beracun (B3)

Sampah B3 rumah tangga adalah sampah yang mengandung bahan atau kemasan berbahaya dan beracun yang dihasilkan dari kegiatan rumah tangga atau sehari-hari. Contohnya baterai bekas, neon atau bohlam bekas, kaleng aerosol kosong bekas obat nyamuk, pewangi ruangan, dan lainnya, wadah bekas kosmetik, skincare dan cairan pembersih, obat kedaluwarsa, dan lainnya.

Keberadaan sampah organik, anorganik, dan B3 saat ini semakin meningkat. Hal itu dipicu oleh semakin meningkatnya jumlah penduduk dan daya konsumsi masyarakat. Sadar atau tidak, gaya hidup konsumtif telah menghasilkan tumpukan sampah misalnya kebiasaan belanja daring, memesan makanan melalui ojek daring, serta penggunaan tas keresek atau kemasan plastik sudah menjadi keseharian kita.

Dampaknya tak hanya menumpuk, juga mencemari lingkungan (tanah, air, dan udara) yang dapat berakibat merugikan generasi selanjutnya. Dimulai diri sendiri, Anda bisa berkontribusi besar dalam menekan jumlah sampah dengan melakukan pemilahan sampah di rumah berdasarkan jenisnya dan melakukan pengelolaan sampah rumah tangga yang benar.


sumaber artikel : https://safetysignindonesia.id/mengenal-sampah-rumah-tangga-dan-jenis-jenisnya/


Sekretariat

Data

Populer

Powered by Blogger.